Wayang kulit (purwa)

Biasa dibuat dari kulit kerbau atau kulit lembu, wayang kulit yang juga sering dikenal sebagai wayang purwa telah menjadi salah satu warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia. Sehingga banyak wisatawan asing yang datang untuk mempelajari seni wayang kulit ini, karena tergolong unik. Merupakan jenis wayang yang paling dikenal, hingga saat ini pertunjukan wayang kulit pun masih menjadi salah satu tontonan menarik yang digemari oleh masyarakat Yogyakarta.

Kesenian ini menggunakan sebuah layar besar dan lakonan wayang tersebut dimainkan dibalik layar putih tersebut, sehingga para peniknat tontonan ini serasa menonton film kartun ataupun film-film di bioskop. Penggunaan layar in berasal dari masuknya pengaruh Islam ke dalam kebudayaan Indonesia, terutama Jawa. Wayang yang pada awalnya berbentuk boneka yang terbuat dari kayu dan dinamakan wayang golek, dilarang dipertunjukkan karena hukum Islam melarang penggambaran bentuk dewa-dewi dalam bentuk manusia (boneka). Ketika Raden Patah dari Demak ingin menonton pertunjukan wayang, para pemimpin Islam ini pun melarangnya. Sebagai jalan keluar, para pemimpin Islam ini merubah bentuk wayang menjadi wayang kulit. Pertunjukannya pun melalui media layar, sehingga yang terlihat hanya bayangannya, bukan bentuk aslinya.

Pertunjukan wayang kulit diatur dan dijalankan oleh seorang dalang yang menggerakkan dan mengisi suara-suara tokoh dalam perwayangan tersebut. Yang menarik, ketika pertunjukan wayang kulit berjalan, di tengah-tengahnya biasanya diselingi dengan “goro-goro”, semacam pertunjukan dengan pemain manusia, dan membawakan cerita-cerita lucu. Pertunjukan kesenian wayang kulit ini di adakan semalam suntuk hingga fajar menyingsing. Bahkan tidak jarang pertunjukan wayang kulit ini diadakan selama tujuh hari tujuh malam.

Pertunjukan wayang kulit ini biasanya mengambil cerita dari kisah Ramayana, Mahabarata, ataupun Serat Menak. Selain pertunjukan yang membawakan kisah-kisah besar, wayang kulit juga menyajikan kisah Punakawan, yang lakonnya terdiri dari Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng. Dalam pertunjukan yang menggunakan Punakawan ini, biasanya cerita yang diangkat adalah seputar masalah-masalah saat ini.

Bentuk wayang kulit ini pun berbeda antar daerah. Di daerah Jawa Tengah dan Jogja, wayang kulit dibuat dengan bentuk yang sangat terencana dan dengan tingkat keabstrakan yang tinggi. Bentuk yang tipis, anggota tubuh yang indah, mata berbentuk buah almond, serta hidung mancung untuk menandakan kebangsawanan. Di Bali, bentuk wayang kulit lebih nyata. Sedangkan wayang kulit di Lombok memiliki benda-benda masa kini, seperti mobil ataupun pesawat terbang.

Pada awalnya, dalam pertunjukan wayang kulit, digunakan lampu minyak atau blancu untuk memunculkan bayangan-bayang pada layar katun yang tersedia. Walau saat ini blancu masih digunakan, tapi banyak pertunjukan wayang telah menggantinya dengan spotlight. Walaupun begitu, peminat wayang kulit ini masih tetap banyak.(fani)

Published in: on April 11, 2009 at 3:05 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.